Ciri-Ciri Nilai Sosial adalah

Ciri-Ciri Nilai Sosial adalah

Ciri-Ciri Nilai Sosial adalah

Nilai sosial mempunyai ciri sebagai berikut:
a.       Merupakan hasil interaksi sosial antarwarga masyarakat, bahwasanya nilai sosial diterapkan melalui proses interaksi antarmanusia yang terjadi secara intensif dan bukan perilaku yang dibawa sejak lahir. Contoh: dengan memberikan contoh dan menanamkan kedisiplinan semenjak kecil, seorang anak akan belajar dan menerima nilai penghargaan atas waktu
b.      Terbentuk melalui proses belajar (sosialisasi). Contoh: nilai menghargai persahabatan dipelajari anak dari sosialisasinya dengan teman-teman sekolah.
c.       Merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
d.      Berupa ukuran atau peraturan sosial yang turut memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial. Misalnya:  tertibnya sebuah antrian menjadi ukuran bagaimana seorang atau sekelompok masyarakat menghargai nilai antrian sekaligus merupakan aturan yang harus diikuti.
e.       Bervariasi antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain. Contoh: di negara-negara Barat waktu itu sangat dihargai sehingga keterlambatan sulit diterima (ditoleransi). Sebaliknya di indonesia, keterlambatan dalam jangka waktu tertentu masih dapat dimaklumi.
f.       Dapat mempengaruhi pengembangan diri seseorang baik positif maupun negatif
g.      Memiliki pengaruh yang berbeda antarwarga masyarakat.
h.      Cenderung berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk pola dan sistem sosial.
i.        Dapat mempengaruhi kepribadian individu sebagai anggota masyarakat. Contoh: nilai yang mengutamakan kepentingan pribadi akan melahirkan individu yang egois dan kurang peduli pada orang lain. Adapun nilai yang mengutamakan kepentingan bersama akan membuat individu lebih peka secara sosial.


Baca Artikel Lainnya:

Pengertian Listrik, Badan, Pembangkit & Cara

Pengertian Listrik, Badan, Pembangkit & Cara

Pengertian Listrik, Badan, Pembangkit & Cara

A.    Pengertian Listrik

Listrik adalah gerakan atau aliran bagian-bagian atom yang sangat kecil yang disebut elektron, yang mempunyai muatan listrik.
Aliran listrik adalah gerakan berjuta-juta elektron, yang melompat diantara atom-atom dalam konduktor yang biasa berupa kawat tembaga.

B.    Badan Penghantar Listrik

Badan penghantar listrik dikelompokan menjadi 3, yaitu Konduktor, Isolator dan Semi konduktor.
 Konduktor, adalah bahan yang dapat menghantarkan listrik.
 Isolator, adalah bahan yang tidak dapat menghantarkan listrik bahkan
mempunyai hambatan yang besar untuk menahan arus listrik.
 Semi konduktor, adalah bahan yang dapat bersifat sebagai konduktor dan
dapat bersifat sebagai isolator.

C.    Pembangkit Listrik

Di dalam pembangkit listrik, sebuah generator dipakai untuk menghasilkan sumber listrik sevara terus-menerus.

D.    Listrik Statis

Kata statis berarti “tidak bergerak”, listrik statis adalah tenaga listrik yang tidak mengalir dalam bentuk arus.

E.    Cara Mengukur Listrik

Listrik dapat diukur dengan menggunakan satuan ilmiah yaitu :
 Ampere    ( A )
 Volt        ( V )
 Ohm        ( Ù )
 Walt
Listrik dapat diukur dengan sebuah alat yang disebut multimeter.


Baca Artikel Lainnya:

Biografi Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Biografi Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Biografi Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Portal Fashion Terbaru – Biografi Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gud Dur). Mantan Presiden Keempat Indonesia ini lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau “Sang Penakluk”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren. Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada 1949. Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Akhir 1949, dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Dia belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan. Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya. Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya. Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970.